Sudah tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, dimulai dengan kesungguhan berjuang dan bersabar serta menetapkan berjuang dan bersabar berjalan seiringan hingga terciptanya tujuan yang dicita-citakan.
Indonesia adalah negara besar dan memiliki sumberdaya alam yang berlimpah untuk memenuhi semua kebutuhan hidup rakyatnya, tetapi sudah rahasia umum bahwa selepas merdeka Indonesia lama berkembang, bahkan sampai pada ulang tahun ke tujuh puluh sudah tertinggal oleh banyak negara tetangga dalam berbagai hal, tidak hanya itu rakyatnya pun masih sangat banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, tingkat pengangguran dan kejahatan masih sangat tinggi, pembangunan ekonomi yang tidak merata, terciptanya jurang pemisah antara rakyat miskin dan berada sehingga membuat terjadinya kecemburuan sosial yang mengakibatkan banyak kekacauan di seluruh penjuru belahan bumi Indonesia.
Harus kita sadari bahwa selepas merdeka, Indonesia harus melawan diri sendiri, mengatur diri sendiri guna terciptanya cita-cita kemerdekaan, sejarah sudah banyak memberi pelajaran bahwa perjuangan paling berat Ialah melawan hawa nafsu diri sendiri, kata Nabi, perang melawan diri sendiri lebih sulit dari perang melawan musuh, maka pada waktu itu terjadilah perang paling berat yang dihadapi umat Islam, yaitu tidak lain adalah berpuasa di bulan Ramadhan, berperang melawan hawa nafsu dari setiap diri masing-masing seorang muslim.
Begitupun Indonesia, setelah berhasil mengusir para penjajah, berperang melawan musuh yang nampak, maka setelah merdeka Indonesia harus berperang melawan kejahatan dari dalam dirinya sendiri, menepis segala yang akan merusak keutuhan dan kesucian diri sebuah bangsa.
sudah tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, betapa terasa sangat sulit kenyataanya negara ini lama berkembang, tertinggal dalam berbagai hal oleh negara-negara lain, kemiskinan merajarela, korupsi mengakar menjadi budaya, dan budaya-budaya yang arif ditinggalkan banyak pemuda-pemudanya, sehingga merubah rambut Indonesia menjadi pirang, hidungnya mancung, bermata coklat dan biru, namun kulitnya tetap sawo matang, Indonesia kehilangan jatidirinya.
Pagi tadi saya pergi ke kampus untuk mengikuti upara kemerdekaan, selepas upara dilangsungkan dengan makan-makan dan perlombaan, saya pikir hari ini semua rakyat tenggelam dalam euforia kemerdekaan, semua orang bergembira, tetapi kenyataanya saya rasa tidak, ketika saya dalam perjalanan pulang dari kampus saya melihat wajah Indonesia yang begitu suram, beberapa pengamen kecil sibuk mengais rezeki dengan mengamen di angkutan umum, para pengemis memohon-mohon belas kasihan dari orang-orang yang melaluinya, dan di bawah jembatan yang penuh sampah kotor nampak seorang bapak tua sedang mengais sisa sampah yang mungkin bermanfaat baginya, kemudian saya teringat dalam pasal 34 ayat 1 UUD 1945 dikatakan bahwa "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara'', dimanakan negara?, kemanakah Ia?, terperangkap dalam lubang atau bersembunyi dasar laut terdalam di muka bumi kah?, ah tidak, negara ada, kapan dan dimanapun mereka selalu ada, hanyasaja mereka tidak peduli, adakah kata yang lebih pantas dari pada tidak peduli?.
Ketika upacara berlangsung dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia hatiku tergetar, mungkin karena ikatan batin dengan bangsaku di mana darahku bersatu dengan bumi yang kupijaki itu, dan hidup dengan segala produksi alam raya bumi Indonesia, disamping itu, karena keperihatinanku akan bangsa ini yang entahlah jika dipikir sejenak saya merasa sangat putus asa akan mimpi kesejahteraan bangsa ini, ketika di penghujung lagu Indonesia raya ''hiduplah Indonesia raya", saya langsung mengucapkan kata Aamiin (Ya Allah kabulkanlah doa kami) adalah kesadaran saya saat itu, bahwa semua tidak akan pernah terwujud tanpa keridhaan Allah, dan bagiku lagu Indonesia raya merupakan sebuah doa yang di belakangnya perlu di tambahkan kata Aamiin.

No comments:
Post a Comment