Kita hidup dalam sebuah mesin raksasa yang bernama birokrasi. Di dalamnya, setiap orang adalah bagian dari roda sistem yang bergerak secara otomatis dan gigantis. Setiap orang tak hanya tubuh, darah, dan pikiran, melainkan juga nomor. Di dalam hirupan nafas dan detak jantung kita, kertas dan angka selalu siap melukiskan apa yang terjadi.
Ketika pertama kali melihat dunia, kita dicatat di dalam
selembar kertas, yang bernama akte kelahiran. Hembusan nafas kita ditandai
dengan nomor urut. Tangisan pertama kita ditandai dengan guratan kata di atas
kertas bernamasertifikat. Tatapan perdana kita atas dunia juga
berbarengan dengan terjunnya kita ke dalam sistem birokrasi raksasa yang
bernama; masyarakat.
Tak lama, waktu berselang. Ketika mendapatkan suntikan pertama
dalam hidup kita, kita diberi nomor, dan sertifikat. Hal yang sama berlangsung
selama beberapa tahun, sampai kita mendapat sertifikat berikutnya, yang
menandakan, bahwa kita sehat. Masuk taman kanak-kanak selama kurang lebih dua
tahun, selesai, dan kita mendapat sertifikat.
Lulus ujian yang dilalui seringkali dengan tangis air mata juga
ditandai dengan sertifikat. Menempuh pendidikan di luar sekolah diakhiri juga
dengan sertifikat. Menikah, punya anak, bekerja, laporan setiap tahun, semuanya
selalu dikepung oleh benda yang bernama sertifikat. Hembusan nafas terakhir
kita di dunia pun, selain diikuti oleh tangis keluarga dan sahabat, juga
ditandai dengan satu simbol yang terus menghantui kita sepanjang hidup;
sertifikat.
Ada apa dengan sertifikat? Apa arti sertifikat? Mengapa kita
hidup dalam bayangannya terus menerus? Apakah sertifikat harus terus menghantui
hidup kita?
Sertifikat dan Asumsi Kita
Sertifikat adalah suatu simbol yang menandakan, bahwa kita telah
melewati satu tahap tertentu dalam hidup kita, dan berhak untuk melakukan serta
mendapatkan sesuatu dengan berpijak pada tahap yang telah kita lewati tersebut.
Ada satu asumsi yang bersembunyi di balik selembar kertas yang bernama
sertifikat, yakni kemampuan. Orang yang telah memiliki sertifikat
dianggap memiliki kemampuan tertentu, sesuai dengan sertifikat yang ia pegang.
Pertanyaan kritisnya adalah, apakah asumsi ini benar?
Sebuah sertifikat dikeluarkan oleh sebuah sistem tertentu. Rumah
sakit (sistem kesehatan masyarakat) mengeluarkan sertifikat sehat. Sekolah
(sistem pendidikan) mengeluarkan sertifikat pendidikan, yang menandakan kemampuan
seseorang. Sistem-sistem lainnya mengeluarkan bukti serupa, yakni sertifikat,
untuk menandakan, bahwa seseorang berhak untuk melakukan atau mendapatkan
hak-hak tertentu.
Kekuatan sertifikat terletak pada kekuatan dari sistem yang
mengeluarkannya. Artinya, jika sistem kesehatan sebuah masyarakat bobrok, maka
sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh sistem kesehatan tersebut tak ada
artinya. Jika sistem pendidikan sebuah masyarakat bobrok, maka sertifikat
pendidikan yang dikeluarkan pun tak ada artinya lagi. Logika sederhana ini bisa
kita tarik lebih jauh ke dalam sistem-sistem lainnya.
Sistem Kita.
Pertanyaan kritis disini adalah, apa artinya, jika kita
mengatakan, bahwa sebuah sistem itu bobrok? Sistem yang bobrok, pada hemat
saya, adalah sistem yang memiliki jurang yang menganga antara kata dan
kenyataan. Jurang tersebut adalah simbol kebohongan. Apa yang tertulis di dalam
sertifikat sama sekali berbeda dari apa yang ada di dalam kenyataan.
Jika jurang ini menganga besar, maka asumsi yang mendasari
seluruh konsep sertifikat pun juga gagal. Sebaliknya, sistem yang sehat selalu
berusaha menjembatani kata dan kenyataan. Kedua konsep itu, yakni kata dan
kenyataan, tak pernah sungguh sama, namun jaraknya bisa diperkecil. Di dalam
sistem yang sehat, jurang yang ada amat sempit, nyaris tak terlihat, sehingga
apa yang tertulis di sertifikat bisa sungguh dipertanggungjawabkan.
Roda dekonstruksi, yakni kemampuan untuk menunda dan memecah
kepastian hidup, harus bergulir untuk memecah asumsi sertifikat di masyarakat
kita. Asumsi harus digoyang dan dipertanyakan. Namun, asumsi harus disadari
terlebih dahulu, sebelum diolah. Kesadaran akan asumsi yang bergerak di balik
kesadaran masyarakat kita inilah yang, menurut saya, amat kurang di Indonesia.
Membangun Kesadaran.
Jurang menganga yang tertulis di dalam sertifikat antara kata
dan kenyataan sebenarnya berakar pada masalah filosofis yang lebih mendalam,
yakni masalah bahasa. Bahasa tak pernah sungguh dapat mewakili realitas, baik
realitas di dalam diri maupun di luar diri kita. Bahasa adalah rumusan, dan
selalu ada jarak yang cukup jauh dan mendalam antara rumusan dengan kenyataan.
Ini terlihat sederhana, namun dampaknya amat luas di dalam hidup
sehari-hari kita, mulai dari salah paham di antara teman yang melahirkan konflik,
ataupun salah paham antara para pemimpin negara yang membawa perang dan
penderitaan. Kesadaran akan “apa yang tak dapat ditangkap dalam bahasa” ini
tidak boleh menjadi alasan untuk kebohongan, tetapi perlu digunakan secara
bijak untuk memahami kelemahan manusia di dalam memahami dunianya.
Di dalam masyarakat modern yang amat rumit, kehadiran sertifikat
tak bisa dihilangkan. Sertifikat adalah simbol hak dan kemampuan seseorang.
Yang perlu terus disadari adalah kekuatan dan kredibilitas dari sistem yang
melahirkan sertifkat tersebut, dan kelemahan bahasa manusia yang
tak mampu melukiskan kenyataan dan perasaan secara sempurna dalam kata-kata
yang tertulis di atas sertifikat. Hanya dengan begitu, sertifikat tidak lagi
menjadi simbol kebohongan, melainkan simbol kepercayaan.
Reza A.A Wattimena. Pengajar
di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya.
Sumber : http://rumahfilsafat.com/
Sumber : http://rumahfilsafat.com/

No comments:
Post a Comment